Jumat, 08 April 2011

LAMTORO MULTI FUNGSI


PENDAHULUAN
Meningkatnya harga pupuk sekarang ini, membuat banyak orang beralih pada pupuk alami yang harganya relatif lebih murah dan lebih mudah didapatkan. Alternatif pupuk alami yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun lamtoro. Lamtoro merupakan tanaman semak atau pohon yang tingginya dapat mencapai 18 m, daun majemuk menyirip ganda dua (bipinnate) dengan 4 - 9 pasang daun pada setiap ibu tangkai.
Perbungaan majemuk, terkumpul dalam kepala bunga berbentuk bola dengan garis tengah 2-5 cm, berwarna putih (Anonim, 2008). Tumbuhan lamtoro ini memiliki banyak kegunaan. Pohon ini dapat berfungsi sebagai kayu bakar, makanan ternak, peneduh dan pupuk hijau yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Secara umum daun lamtoro mengandung unsur hara 2,0-4,3 % Nitrogen, 0,2-0,4 % Fosfor, dan 1,3-4,0 % Kalium (Anonim, 2007).
Semua unsur hara yang terkandung merupakan unsur hara essensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Sutedjo (1992), unsur hara makro sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan-pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun, dan apabila ketersediaan unsur.

ASAL USUL ANAK JENIS DAN PERSEBARAN
Tanah asli lamtoro adalah Meksiko dan Amerika Tengah, di mana tanaman ini tumbuh menyebar luas. Penjajah Spanyol membawa biji-bijinya dari sana ke Filipina di akhir abad XVI. dan dari tempat ini mulailah lamtoro menyebar luas ke pelbagai bagian dunia; ditanam sebagai peneduh tanaman kopi, penghasil kayu bakar, serta sumber pakan ternak yang lekas tumbuh.
Lamtoro mudah beradaptasi, dan segera saja tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah tropis di Asiadan Afrika; termasuk pula di Indonesia. Ada tiga anak jenis (subspesies)nya, yakni:
§  Leucaena leucocephala ssp. leucocephala; ialah anak jenis yang disebar luaskan oleh bangsa Spanyol di atas. Di Jawa dikenal sebagailamtoro atau petai cina ‘lokal’, berbatang pendek sekitar 5 m tingginya dan pucuk rantingnya berambut lebat.
§  ssp. glabrata (Rose) S. Zárate. Dikenal sebagai lamtoro gung, tanaman ini berukuran besar segala-galanya (pohon, daun, bunga, buah) dibandingkan anak jenis yang pertama. Lamtoro gung baru menyebar luas di dunia dalam beberapa dekade terakhir. Serta,
§  ssp. ixtahuacana C. E. Hughes; yang menyebar terbatas di Meksiko dan Guatemala.

PEMANFAATAN
Sejak lama lamtoro telah dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber kayu bakar dan pakan ternak. Di tanah-tanah yang cukup subur, lamtoro tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ukuran dewasanya (tinggi 13—18 m) dalam waktu 3 sampai 5 tahun. Tegakan yang padat (lebih dari 5000 pohon/ha) mampu menghasilkan riap kayu sebesar 20 hingga 60 m³ perhektare pertahun. Pohon yang ditanam sendirian dapat tumbuh mencapai gemang 50 cm.
Lamtoro adalah salah satu jenis polong-polongan serbaguna yang paling banyak ditanam dalam pola pertanaman campuran (wanatani). Pohon ini sering ditanam dalam jalur-jalur berjarak 3-10 m, di antara larikan-larikan tanaman pokok. Kegunaan lainnya adalah sebagai pagar hidup, sekat api, penahan angin, jalur hijau, rambatan hidup bagi tanaman-tanaman yang melilit seperti lada, panili, markisa dan gadung, serta pohon penaung di perkebunan kopi dan kakao. Di hutan-hutan tanaman jati yang dikelola Perhutani di Jawa, lamtoro kerap ditanam sebagai tanaman sela untuk mengendalikan hanyutan tanah (erosi) dan meningkatkan kesuburan tanah. Perakaran lamtoro memiliki nodul-nodul akar tempat mengikat nitrogen.
KAYU
Lamtoro terutama disukai sebagai penghasil kayu api. Kayu lamtoro memiliki nilai kalori sebesar 19.250 kJ/kg, terbakar dengan lambat serta menghasilkan sedikit asap dan abu. Arang kayu lamtoro berkualitas sangat baik, dengan nilai kalori 48.400 kJ/kg.
Kayunya termasuk padat untuk ukuran pohon yang lekas tumbuh (kepadatan 500-600 kg/m³) dan kadar air kayu basah antara 30-50%, bergantung pada umurnya. Lamtoro cukup mudah dikeringkan dengan hasil yang baik, dan mudah dikerjakan. Sayangnya kayu ini jarang yang memiliki ukuran besar; batang bebas cabang umumnya pendek dan banyak mata kayu, karena pohon ini banyak bercabang-cabang. Kayu terasnya berwarna coklat kemerahan atau keemasan, bertekstur sedang, cukup keras dan kuat sebagai kayu perkakas, mebel, tiang atau penutup lantai. Kayu lamtoro tidak tahan serangan rayap dan agak lekas membusuk apabila digunakan di luar ruangan, akan tetapi mudah menyerap bahan pengawet.
Lamtoro juga merupakan penghasil pulp (bubur kayu) yang baik, yang cocok untuk produksi kertas ataurayon. Kayunya menghasilkan 50-52% pulp, dengan kadar lignin rendah dan serat kayu sepanjang 1,1-1,3 mm. Kualitas kertas yang didapat termasuk baik.
DAUN
Daun-daun dan ranting muda lamtoro merupakan pakan ternak dan sumber protein yang baik, khususnya bagi ruminansia. Daun-daun ini memiliki tingkat ketercernaan 60 hingga 70% pada ruminansia, tertinggi di antara jenis-jenis polong-polongan dan hijauan pakan ternak tropis lainnya. Lamtoro yang ditanam cukup rapat dan dikelola dengan baik dapat menghasilkan hijauan dalam jumlah yang tinggi. Namun pertanaman campuran lamtoro (jarak tanam 5-8 m) dengan rumput yang ditanam di antaranya, akan memberikan hasil paling ekonomis.
Ternak sapi dan kambing menghasilkan pertambahan bobot yang baik dengan komposisi hijauan pakan berupa campuran rumput dan 20-30% lamtoro. Meskipun semua ternak menyukai lamtoro, akan tetapi kandungan yang tinggi dari mimosin dapat menyebabkan kerontokan rambut pada ternak non-ruminansia. Mimosin, sejenis asam amino, terkandung pada daun-daun dan biji lamtoro hingga sebesar 4% berat kering. Pada ruminansia, mimosin ini diuraikan di dalam lambungnya oleh sejenis bakteria, Synergistes jonesii. Pemanasan dan pemberian garam besi-belerang pun dapat mengurangi toksisitasmimosin.
Di Jawa, pucuk dan polong yang muda biasa dilalap mentah. Biji-bijinya yang tua disangrai sebagai pengganti kopi, dengan bau harum yang lebih keras dari kopi. Biji-biji yang sudah cukup tua, tetapi belum menghitam, biasa digunakan sebagai campuran pecal dan botok.
Daun-daunnya juga kerap digunakan sebagai mulsa dan pupuk hijau. Daun-daun lamtoro lekas mengalami dekomposisi.
EKOLOGI DAN PENYEBARAN
Lamtoro menyukai iklim tropis yang hangat (suhu harian 25-30 °C); ketinggian di atas 1000 m dpl. dapat menghambat pertumbuhannya. Tanaman ini cukup tahan kekeringan, tumbuh baik di wilayah dengan kisaran curah hujan antara 650-3.000 mm (optimal 800-1.500 mm) pertahun; akan tetapi termasuk tidak tahan penggenangan.
Tanaman lamtoro mudah diperbanyak dengan biji dan dengan pemindahan anakan. Saking mudahnya tumbuh, di banyak tempat lamtoro seringkali merajalela menjadi gulma. Tanaman ini pun mudah trubus; setelah dipangkas, ditebang atau dibakar, tunas-tunasnya akan tumbuh kembali dalam jumlah banyak.
Tidak banyak hama yang menyerang tanaman ini, akan tetapi lamtoro teristimewa rentan terhadap serangan hama kutu loncat (Heteropsylla cubana). Serangan hama ini di Indonesia di akhir tahun 1980an, telah mengakibatkan habisnya jenis lamtoro ‘lokal’ di banyak tempat.
MANFAAT TANAMAN LAMTORO BAGI KESEHATAN MANUSIA
Tanaman lamtoro dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan. Manfat-manfaat tanaman lamtoro diantaranya adalah sebagai obat cacing, peluruh kencing, patah tulang, luka terpukul, susah tidur (insomnia), bengkak (oedem), radang ginjal, dan kencing manis. Akar tanaman lamtoro ini pun dapat dimanfaatkan sebagai peluruh haid. Inilah resep-resep mengenai manfaat tanaman lamtoro untuk lebih lengkapnya.

1. Kencing Manis
Seduh satu sendok teh bubuk biji tanaman lamtoro dengan ½ cangkir air panas. Minum hasilseduhan saat masih hangat, setengah jam sebelum makan sebanyak dua sampai tiga kali sehari.

2. Cacingan, Bengkak (Oedem) dan Radang ginjal
Rebus atau seduh 3-5 gram serbuk biji tanaman lamtoro kering dengan 1 cangkir air panas, lalu minum air rebusan atau seduhannya. Lakukan pengobatan tiga kali sehari dengan dosis yang sama.
3. Bisul, Patah tulang, Abses paru, Luka terpukul, Susah tidur karena gelisah (Insomnia)
Rebus 10 gram seluruh bagian tanaman lamtoro dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Minum sekaligus satu kali sehari saat hangat.
4. Meluruhkan Haid
Rebus segenggam akar tanaman lamtoro dengan 3 gelas air sampai tersisa satu gelas. Minum air rebusan dua kali sehari masing-masing 1 gelas.
5. Meningkatkan gairah seks
Kocok 1 sendok bubuk biji tanaman lamtoro, 1 sendok bubuk lada hitam, 2 butir kuning telur ayam kampung mentah dan 1 sendok madu sampai rata. Minum campuran tersebut sekaligus satu hari. Sebelum digunakan untuk resep-resep di atas, harap biji dikeringkan dan ditumbuk menjadi serbuk lalu disimpan. Semoga artikel manfaat tanaman lamtoro kali ini dari Obat alami Indonesia ini dapat bermanfaat bagi anda. Salam sehat dan segar selalu.

LAMTORO SEBAGAI BAHAN ORGANIK TANAH

Bahan organik tanah merupakan kunci utama kesehatan tanah baik fisik, kimia maupun biologi. Namun demikian, banyak lahan pertanian di Indonesia (baik lahan kering maupun sawah) yang mempunyai kadar bahan organik <1%. Padahal kadar bahan organik yang optimum untuk pertumbuhan tanaman sekitar 3-5% (Adiningsih, 2005).
Sebelum tahun lima puluhan penggunaan pupuk organik pada lahan pertanian relatif tinggi dibandingkan dengan pupuk anorganik. Namun sejak tahun 1960-an penggunaan pupuk anorganik mulai mendominasi, bahkan peran dari pupuk organik seolah terabaikan. Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya produksi pupuk anorganik dengan harga persatuan hara yang relatif murah dibanding pupuk organik, dan semakin berkembangnya varietas-varietas unggul yang responsif terhadap pupuk kimia.
Dengan semakin meluasnya lahan yang terdegradasi, diantara-nya banyak disebabkan oleh merosotnya kadar bahan organik tanah (Kurnia et al., 2005), para ahli mulai menggali sumber-sumber bahan organik potensial yang bisa digunakan untuk proses pemulihan dan pengelolaan lahan. Manfaat dari bahan organik baik sebagai sumber hara (pupuk) maupun sebagai pembenah tanah (soil ameliorant) telah banyak dibuktikan, namun pada prakteknya sering terbentur pada aspek pengadaan/sumber bahan organik. Jenis pupuk organik tertua yang digunakan pada budi daya pertanian adalah pupuk hijau, yaitu pupuk organik yang berasal dari tanaman/tumbuhan atau berupa sisa panen. Bahan dari tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau segera setelah dikomposkan (FFTC, 1995).

Senin, 28 Maret 2011

PENGENDALIAN SECARA KULTUR TEKNIS



PENGENDALIAN SECARA KULTUR TEKNIS
1.      Rotasi tanaman
Pada prinsipnya rotasi tanaman adalah mengganti tanaman dengan jenis lain yang bukan merupakan inang nematoda, sebagai contoh  untuk mengendalikan Hirchmaniella tanaman padi dapat dirotasi dengan tanaman polowija.
2.      Pemupukan bahan organik
Pengendalian ini bertujuan memperbaiki struktur tanah sehingga tanaman menjadi tumbuh subur.  Tanaman yang sehat dan kuat lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Pupuk organik terutama pupuk kandang/kompos banyak berkembang mikroorganisme yang dapat berperan sebagai musuh alami nematoda, misalnya jamur perangkap, seperti Paecilomyces lilicinus dapat mengendalikan Meloidogyne dan Globodera pallida, Arthrobotrys oligospora bersifat “sticky network”
Dactylella lobota, bersifat ”sticky branches”,
Dactylella elliptospora, bersifat ”sticky knobs”,
Dactylaria candida, bersifat non “constricting ring”,
Arthrobotrys dactyloides, bersifat “constricting ring”,
Jamur endoparasit Harsporium anguillulae dan Catenaria anguillulae. Contoh bakteri : Pasteuria penetrans untuk mengendalikan Meloidogyne larva dan Pratylenchus

3.      Dengan pemanasan

Pada dasarnya nematoda parasit dapat mati pada suhu ± 45 oC.   Sterilisasi tanah dapat dilakukan dengan cara pemberian uap panas yang dialirkan melalui pipa-pipa.   Cara ini dilakukan pada tanah sebelum disebari biji/benih. Pencelupan bahan tanaman ke dalam air panas ditujukan pada nematoda endoparasit yang menyerang akar atau pada biji padi sebelum ditebar, suhu yang digunakan antara 50-55 oC, selama ± 15 menit.

4.      Dengan mulching

Menutup permukaan tanah dengan mulching menyebabkan terjadinya peningkatan suhu di bawah mulching, yang mungkin tidak cocok bagi kehidupan nematoda.  Penutupan tanah dapat pula mencegah masuknya nematoda ke bedengan tempat tanaman dibudidayakan.



5.      Menggunakan tanaman perangkap
Tanaman yang digunakan adalah tanaman yang sangat peka.  Untuk mengendalikan Heterodera pada kentang dapat dilakukan dengan dengan tanaman perangkap tomat.  Pencabutan tanaman tomat dilakukan setelah tanaman berumur 1,5 bulan kemudian dibakar,  pada saat dicabut diharapkan nematoda belum menghasilkan telur dan bila telah menghasilkan telur, telur nematoda belum masak.
6.      Penggenangan
Pada umumnya nematoda membutuhkan oksigen untuk melangsungkan hidupnya.  Penggenangan dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen di dalam tanah, karena kedudukannya didesak oleh air.  Berkurangnya kandungan   O2 di dalam tanah menyebabkan nematoda sukar hidup atau bahkan dapat mati.
7.      Menggunakan tanaman tahan.
Keuntungan penggunaan tanaman tahan:
a)  Tidak menyebabkan pencemaran
b) Kompatibel
c)  Di tingkat petani murah/ mudah
d) Kumulatif
Kerugian:
a.  Mahal / waktu mendapatkan lama
b.  Menimbulkan biotipe
c.   Sumber genetik terbatas.
8.  Resistensi Tanaman
Resistensi tanaman adalah suatu keadaan dimana tanaman tahan terhadap serangan suatu hama. Resistensi tanman ini erat kaintanya dengan respon tanaman terhadapserangan hama dan keterkaiatn hama terhadapa tanaman.
Mekanisme resistensi:
a)  Non preference
b) Antibiosis
c)  Toleran

Sabtu, 26 Maret 2011

RHIZOBIUM DAN CMA BERPENGARUH POSITIF PADA TANAMAN KEDELAI

Salah satu jenis tanah yang mendominasi lahan di Indonesia ialah tanah tua atau jenis tanah Ultisols, yang telah mengalami pelapukan dan kesuburan yang rendah (Pujianto, 2001). Luas tanah Ultisol di Indonesia mencapai 48,3 juta ha atau sekitar 58% dari luas lahan kering di Indonesia (Hasanudin dan Gonggo, 2004).
Pemanfaatan tahan mineral masam, khususnya Ultisol memiliki banyak kendala karena tingginya kemasaman tanah yang menyebabkan tingginya konsentrasi Al dan Fe yang bersifat racun bagi tanaman, rendahnya kandungan hara dan resistensi hara yang tinggi (Sanchez, 1992). Rendahnya kadar bahan organik yang menyebabkan sedikitnya populasi dan aktivitas mikroorganisme tanah dan rendahnya aktivitas liat yang berpengaruh pada pertukaran ion dalam tanah rendah (Hardjowigeno, 1993). Sehingga tanaman yang tumbuh pada kondisi ini, tidak mampu menyerap hara, karena sistem perakaran dan unsur hara rendah (Bertham et al., 2005). Ketersediaan unsur hara pada Ultisol akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang optimal dan berkaitan langsung dengan hasil yang akan diperoleh.
Tingginya harga pupuk sekarang ini, menyebabkan petani beralih untuk menanam komuditi lain yang tidak memerlukan jumlah pupuk dalam jumlah banyak, khususnya petani kedelai. Kedelai merupakan salah tanaman kacang-kacangan yang mempunyai kegunaan dalam kehidupan manusia baik untuk sumber protein nabati, bahan pakan ternak dan bahan baku industri (Bertham, 2002).
Produksi kedelai selama lima tahun terakhir mengalami penurunan tajam karena berbagai faktor, termaksud diantaranya : mahalnya harga pupuk buatan akibat meningkatnya harga BBM, rendahnya produktivitas lahan, kurang tersedianya bibit unggul dan lahan yang terbatas serta kegagalan panen (Maryanto, et al., 2002). 
Banyak usaha yang dilakukan untuk dapat meningkatkan produktivitas tanah Ultisol, seperti pengapuran dan pemberian pupuk buatan, Namun, usaha tersebut belum berhasil dengan baik (Hasanudin, 2003). Penggunaan pupuk buatan, selain memerlukan biaya dan energi yang relatif besar, juga menimbulkan dampak negatif bagi lingkingan (Hasanudin, 2002).karena itu perlu adanya alternatif lain yang dapat mengatasi kendala tanah mineral masam serta pupuk yang diterima konsumen dan ramah lingkungan. Salah satunya dengan pemanfaatan pupuk hayati.
Mikroba tanah yang dapat digunakan sebagai pupuk hayati, adalah Rhizobium sebagai Bakteri Penambat Nitrogen dan Cendawan Mikoriza Arbuskula. Bakteri penambat nitrogen khusunya dari kelompok rhizobia adalah bakteri yang hidup dalam bintil akar yang bersimbiosis dengan tanaman legum untuk menambat nitrigen dari udara (Sabba Rao, 1994). Rhizobium sebagai penambat nitrogen memiliki manfaat bagi tanaman yang tumbuh di tanah Ultisol. Bakteri ini memiliki pertumbuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan rhizobia lainnya (Holt et al., 1994). Bakteri rhizobium hidup secara bebas dalam tanah dan dalam daerah perakaran baik pada tanaman leguminosa dan nonleguminosa.
Mikoriza adalah suatu bentuk asosiasi simbiotik antara akar tumbuhan tingkat tinggi dan miselium cendawan tertentu (Smith dan Read, 1997). Salah satu cendawan  pembentuk mikoriza yang sekarang sedang populer adalah Cendawan Mikoriza Arbuskula yang dapat digunakan sebaagai pupuk hayati. CMA adalah cendawan tanah yang bersimbiosis dengan akar tanaman dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, karena dapat meningkatkan serapan beberapa unsur hara tanaman, mencegah keracunan logam berat termasuk Al dan meningkatkan kebugaran tanaman sehingga tanaman lebih tahan terhadap serangan jasad patogen.
Ilmuan telah banyak membuktikan bahwa CMA dapat meningkatkan serapan hara baik hara mikro maupun makro, sehingga penggunaan CMA dapat dijadikan sebagai alat biologis untuk menggunakan dan mengefisienkan penggunaan pupuk (Bertham, 2006a). Selain itu hasil penelitian Bertham (2002) menunjukkan bahwa pemberian CMA dapat meningkatkan bobot kering bagian atas tanaman sebesar 50% dan bobot kering akar sebesar 42.86%.